• Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 di Aula Asrama Haji, Tanjungpinang

    Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 di Aula Asrama Haji, Tanjungpinang

  • Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat di Tingkat RT/RW dalam Pencegahan COVID-19

    Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat di Tingkat RT/RW dalam Pencegahan COVID-19

  • Pelayanan Kesehatan Bergerak di Tajur biru, Temiang Pesisir Kab. Lingga.

    Pelayanan Kesehatan Bergerak di Tajur biru, Temiang Pesisir Kab. Lingga.

  • Selamat dan Sukses atas pelantikan Bapak Ansar Ahmad dan Ibu Marlin Agustina sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Periode 2021-2024.
  • Pelayanan Kesehatan Bergerak di Kepulauan Anambas

    Pelayanan Kesehatan Bergerak di Kepulauan Anambas

  • Dialog Interaktif bersama kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau di RRI Tanjungpinang

    Dialog interaktif bersama kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau di RRI Tanjungpinang

  • Penyerahan Vaksin COVID-19 dan Logistik Pendukung Untuk Kab/Kota di Provinsi Kepulauan Riau

    Penyerahan Vaksin COVID-19 dan Logistik Pendukung Untuk Kab/Kota di Provinsi Kepulauan Riau

  • Tracing Kontak sebagai upaya mengendalikan laju penyebaran virus COVID-19 di RSUD Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang

    Tracing Kontak sebagai upaya mengendalikan laju penyebaran virus COVID-19 di RSUD Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang

  • Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 56 di Halaman Gedung Daerah, Kota Tanjungpinang

    Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 56 di Halaman Gedung Daerah, Kota Tanjungpinang

  • Peninjauan Kesiapan Pembangunan RSKI Galang

    Peninjauan Kesiapan Pembangunan RSKI Galang, Kota Batam

Keberadaan tenaga kesehatan merupakan bagian dari misi kemanusiaan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan

Orientasi Penatalaksanaan Kasus Gangguan Jiwa Bagi Nakes Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020

ODGJ

Gambar : Orientasi Penatalaksanaan Kasus Gangguan Jiwa Bagi Nakes Tingkat Provinsi Kepulauan Riau, 19-21 Februari 2020

Masalah kesehatan jiwa saat ini semakin mendapat perhatian dunia, dimana satu atau lebih gangguan jiwa dan perilaku, dialami oleh 25% dari seluruh penduduk pada suatu masa dari hidupnya. World Health Organization (who) menemukan bahwa 24% pasien yang berobat ke pelayanan kesehatan primer memiliki diagnosis gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang sering ditemukan adalah depresi dan cemas (who, 2001). Selain itu, masalah pengguna napza juga semakin memprihatinkan. WHO memperkirakan bahwa jumlah penguna tembakau sebanyak 1,1 milyar orang, pengguna alkohol sebanyak 250 juta orang, dan pengguna NAPZA sebanyak 15 juta orang di seluruh dunia. Penanganan gangguan jiwa saat ini telah mengalami perubahan fundamental dari pendekatan klinis, individual menjadi produktif dan sosial sesuai dengan berkembangnya konsep kesehatan jiwa komunitas. Prevalensi gangguan jiwa pada masyarakat Indonesia cukup tinggi dan berdampak menurunkan produktifitas serta kualitas hidup manusia dan masyarakat.

 

Besarnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat mulai dari gangguan mental emosional sampai gangguan jiwa berat. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 pada penduduk usia > 15 tahun ditemukan gangguan mental emosional sebesar 6,0 %, meningkat menjadi 9,8% pada Riskesdas tahun 2018. Prevalensi depresi pada penduduk umur >15 tahun sebesar 6,1% pada tahun 2018, sedangkan  gangguan jiwa berat mencapai 1,8 per 1000 penduduk dimana terjadi peningkatan dibanding hasil Riskesdas tahun 2013 yaitu sebesar 1,7 per 1000 penduduk. Dilihat dari data Riskesdas 2013 dan 2018 angka prevalensi gangguan jiwa berat di Provinsi Kepulauan mengalami penurunan yaitu dari 1,3 per 1000 penduduk, menurun angkanya menjadi 0,9 per 1000 penduduk. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan keberhasilan program atau adanya perpindahan penduduk yang mengalami gangguan jiwa berat ke wilayah lainnya, akan tetapi capaian penemuan kasus penderita gangguan jiwa berat yang dan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar masih jauh dibawah target SPM di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kepulauan Riau, dimana penemuan kasus gangguan jiwa berat tahun 2019 sebanyak 1.814 kasus, akan tetapi yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar berjumlah 1700 penderita ODGJ berat atau sebesar 84,6%, dibandingkan target 100% sehingga masih belum mencapaian target SPM.

Adapun jumlah kasus pasung di Provinsi Kepulauan Riau sampai dengan Desember tahun 2019 berjumlah 76 orang. Sedangkan jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa sesuai kriteria yaitu memiliki tenaga kesehatan terlatih, melakukan kegiatan promotif dan preventif dan melakukan deteksi dini dan penatalaksanaan awal kasus gangguan jiwa adalah sebanyak 47 Puskesmas dari 87 Puskesmas di Provinsi Kepulauan Riau atau sebesar 54%. Dilihat dari data capaian tersebut, perlu dilakukan peningkatan kapasitas petugas kesehatan terutama pengelola program kesehatan jiwa, dokter umum dan perawat di puskesmas dalam menjalankan program kesehatan jiwa terutama untuk melakukan deteksi dini dan penatalaksanaan kasus gangguan jiwa di puskesmas sesuai dengan SPM kesehatan jiwa.

 

Penulis : SM

Video Promosi Kesehatan

Link Situs

PEMERINTAH PROVINSI

KEPULAUAN RIAU

DINAS KESEHATAN

KOTA TANJUNGPINANG

DINAS KESEHATAN

KABUPATEN LINGGA

PORTAL BIDANG P2P

DINKES PROV. KEPRI

  • IMG-20171025-WA0039.jpg
  • IMG-20171026-WA0026.jpg
  • sPANDUK_mr_kEPRI.jpg
  • WhatsApp_Image_2020-11-11_at_20.03.23.jpeg
Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech