Skip to content

Increase font size Decrease font size Default font size
:: Pengumuman : Per tanggal 1 Januari 2018 akan dilaunching Template Baru Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepri dengan Alamat : http://dinkes.kepriprov.go.id ::
Mengenal dan Menanggulangi Infeksi Leptospirosis di Provinsi Kepulauan Riau PDF Print E-mail
Written by p2p.surv   
Thursday, 24 August 2017 09:50

Leptospirosis adalah penyakit zoonosa yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang berbentuk siral dari genus Leprospira yang pathogen, yang ditularkan secara langsung dan tidak langsung dari hewan ke manusia.

Hampir semua spesies mamalia dapat menjadi tempat berkembangnya Leptospira di dalam ginjalnya dan bertindak sebagai sumber infeksi untuk manusia dan hewan lainnya. Tikus merupakan binatang pertama kali dikenali sebagai reservoar Leptospirosis, yang dapat menularkan Leptospirosa seumur hidup mereka tanpa menunjukkan manisfestasi klinis, yaitu carrier berkepanjangan. Mereka dicurigai sebagai sumber utama infeksi pada manusia.

Resiko manusia terinfeksi tergantung pada paparan terhadap faktor resiko. Beberapa manusia memiliki resiko tinggi terpapar Leptospirosis karena pekerjaannya, lingkungan dimana mereka tinggal atau gaya hidup. Manusia dapat terinfeksi Leptospirosis karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan urin hewan yang terinfeksi Leptospira.

Penularan langsung melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman Leptospira masuk kedalam tubuh pejamu, dari hewan ke manusia merupakan akibat pekerjaan, dari manusia ke manusia meskipun jarang. Penularan tidak langsung terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan.

Berdasarkan laporan dari Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tanjungpinang pada tanggal 27 Juli 2017, ada 1 orang yang diduga suspek Leptospirosis dari gejala klinisnya. Dengan adanya laporan tersebut maka Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau melakukan penyelidikan epidemiologi ke rumah sakit dengan menemui dokter yang merawat kasus dan melakukan wawancara terhadap kasus serta melakukan pengambilan sampel terhadap kasus. Sampel dilakukan pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) Leptospirosis dengan hasilnya Positif Leptospirosis. Selain dilakukan pemeriksaan RDT, sampel juga dilakukan pengiriman ke BBTKL Jakarta dengan hasil Negatif Leptospirosis. Hasil pemeriksaan dari BBTKL Jakarta Negatif Leptospiros kemungkinan karena sampel serum kasus yang diambil telah mengalami hemodialisa di RSUD Kota Tanjungpinang.

Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang dan Puskesmas Sei Jang juga melakukan penyelidikan epidemiologi di tempat kerja kasus. Faktor resiko kasus terinfeksi Leptospirosis sangat memungkinkan di tempat kerja. Kasus bertugas sebagai tukang bersih-bersih dimana setiap pagi membersihkan ruangan yang ada kotoran tikus serta melakukan pekerjaan tanpa alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan dan sepatu, selain itu juga kasus memiliki luka di kakinya.

Upaya penanggulangan yang telah dilakukan oleh Puskesmas Sei Jang, Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang dan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau yaitu :

  1. Melakukan penyelidikan epidemiologi kasus, tempat kerja dan rumahnya.
  2. Melakukan pengamatan terhadap kasus dan yang beresiko dengan melakukan RDT pada pekerja lainnya ditempat makan dan hasilnya Negatif Leptospirosis.
  3. Mengeluarkan teguran kepada pemilik tempat makan untuk memperbaiki sanitasi rumah makan dan segera mengurus laik sehat.
  4. Melakukan pengiriman sampel ke laboratorium BBTKL Jakarta
  5. Melakukan penyuluhan terhadap pemilik dan pekerja tempat makan mengenai higiene perseorangan dan sanitasi tempat kerja.

 

Last Updated on Saturday, 23 September 2017 09:49