Skip to content

Increase font size Decrease font size Default font size
:: Pengumuman : Per tanggal 1 Januari 2018 akan dilaunching Template Baru Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepri dengan Alamat : http://dinkes.kepriprov.go.id ::
Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau
Kunjungan Provinsi NTT ke Kepri, Sebuah Pembelajaran dari Puskesmas PONED Kijang PDF Print E-mail
Friday, 04 February 2011 16:08

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi mengacu pada empat pilar Safe Motherhood yaitu 1) Keluarga Berencana 2) Antenatal Care yang berkualitas 3) Persalinan yang bersih dan aman dan 4) pelayanan obsterik dan neonatal esensial. Dengan demikian, kualitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu kunci penting dalam menurunkan AKI dan AKB karena pelayanan yang tidak berkualitas atau tidak sesuai standar dapat membahayakan bahkan menimbulkan kematian pada ibu dan anak. Secara umum, AKI dan AKB di Indonesia masih belum mencapai harapan dimana AKI sebesar 228/100.000 KH dan AKB sebesar 34/1000 KH (SDKI, 2007).

Terkait dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kunjungan ke Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan data yang tersedia AKI di NTT mencapai 306/100.000 KH dan AKB sebesar 57/1000 KH. Sedangkan untuk Provinsi Kepulauan Riau, AKI sebesar 192/100.000 KH (laporan program) dan AKB sebesar 20/1000 KH (SUPAS 2007).

Adapun maksud dan tujuan Kunjungan Provinsi NTT ke Provinsi Kepulauan Riau adalah untuk mendapatkan informasi pembelajaran dari Puskesmas yang sudah menerapkan system pelayanan PONED sesuai standar, untuk selanjutnya dapat dikembangkan sistem manajemen pelayanan yang efektif dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan. Rombongan Kunjungan dari Provinsi NTT dipimpin Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkesprov. NTT dan diikuti oleh 58 peserta yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan se-Provinsi NTT sebanyak 44 orang dan jajaran penanggung jawab KIA di Provinsi NTT sebanyak 14 orang.

Rangkaian kegiatan di mulai di Hotel Goodway - Batam pada tanggal 21 November 2010 dan dilaksanakan pembukaan kegiatan yang dihadiri oleh dr. Anthoni Simatupang, MKM (Kabid Promkes dan Kesga) mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau. Esok harinya kegiatan dilanjutkan dengan seminar dan kunjungan ke fasilitas kesehatan yaitu RS Mutiara Aini dengan didampingi oleh Wan Yetti Suzana dan Zulfahmi Harahap, SKM (staf Dinas Kesehatan Prov. Kepri).

Pada hari ketiga rombongan menuju Kota Tanjungpinang dan disambut oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Tjetjep Yudiana, SKM, M.Kes didampingi oleh seluruh jajaran eselon III dan IV bertempat di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Kepulauan Riau. Pada kesempatan tersebut, dilakukan sharing pengalaman dan informasi mengenai kondisi masing-masing provinsi dan upaya yang telah dilaksanakan.

Selanjutnya rombongan menuju ke Puskesmas PONED di Kabupaten Bintan dan disambut oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, Pudji Basuki, SKM dan Kepala Puskesmas Kijang, dr. Royhan beserta jajaran. Pada kesempatan tersebut dipaparkan bagaimana dukungan masyarakat dalam pelayanan KIA, pelaksanaan Puskesmas PONED, ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana serta dukungan Pemerintah Daerah (Pemda). Pemaparan oleh Kepala Puskesmas memancing banyak pertanyaan dari peserta kunjungan, terutama mengenai pelaksanaan partisipasi masyarakat dalam sistem rujukan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hal yang menarik perhatian peserta adalah besarnya dukungan dari Pemda terhadap Kader Kesehatan dan Posyandu dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Setelah pemaparan, rombongan meninjau ruangan Puskesmas, khususnya di Kamar Bersalin dan mempelajari bagaimana pelayanan diberikan yang tentunya memerlukan dukungan tenaga, alat, obat dan penunjang lainnya.

Setelah meninjau pelaksanaan Puskesmas Mampu PONED di Kabupaten Bintan, rombongan  kembali ke Kota Tanjungpinang dan melanjutkan perjalanan ke Kota Batam. Selain bermanfaat untuk Provinsi NTT, kegiatan tersebut juga bermanfaat bagi Provinsi Kepulauan Riau, tentang  gambaran Provinsi NTT dan apa upaya yang telah dilakukan dalam pelayanan KIA.

Pada prinsipnya sistem pelayanan rujukan Puskesmas PONED dimulai dari adanya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan ibu hamil, faktor risiko dan tanda bahaya dengan instrument Buku KIA dan diimplementasikan dalam P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi). Ditingkat pelayanan kesehatan juga diperlukan dukungan untuk melakukan deteksi dini pada pemeriksaan ANC pada ibu hamil, serta sarana prasarana yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Khusus untuk penanganan komplikasi obstetric dan neonatal diperlukan Puskesmas Mampu PONED dan RS Mampu PONEK yang siap 24 jam.
Last Updated on Friday, 04 February 2011 17:05
 
Making Pregnancy Saver (MPS) dalam Upaya Penurunan AKI dan AKB di Provinsi Kepulauan Riau PDF Print E-mail
Friday, 22 October 2010 11:27

Para pemimpin dunia telah menyepakati penurunan kasus kematian ibu dan bayi sebagai salah satu tujuan pembangunan millennium. Apalagi pada beberapa waktu terakhir ini, istilah MDG’s sering dilontarkan dalam berbagai forum. Bahkan, telah direncanakan Riskesdas untuk menjawab sudah seberapa jauh Indonesia menjawab tantangan MDG’s. Telah kita ketahui bersama, penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi merupakan salah satu poin penting yang masih menjadi pekerjaan besar mengingat pencapaian saat ini belum cukup menggembirakan. Padahal kurun waktu MDG’s akan segera berakhir pada tahun 2015.

Salah satu indicator penting dalam upaya penurunan AKI dan AKB adalah persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Pada tahun 2000 Pemerintah Indonesia telah mencanangkan Making Pregnancy Saver (MPS) dan merupakan kelanjutan dari program Safe Motherhood. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam program MPS merupakan kegiatan yang terfokus sesuai dengan penyebab masalah yang terbukti menjadi penyebab utama tingginya angkaa kematian ibu dan neonatal di Indonesia.

mps

MPS mengharapkan agar ibu hamil, melahirkan dan dalam masa setelah persalinan (post natal) mempunyaai akses terhadap tenaga kesehatan terlatih. Strategi MPS meliputi tiga pesan kunci, yakni:

  1. Setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.
  2. Setiap komplikasi persalinan harus ditangani tenaga adekuat (dokter ahli).
  3. Setiap wanita usia subur harus mempunyai akses pencegahan kehamilan dan penanganan komplikasi keguguran.

Saat ini, sebagian besar ibu hamil telah bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan, terutama di perkotaan yaitu Kota Batam dan Kota Tanjungpinang. Tetapi masih banyak daerah di Provinsi Kepulauan Riau yang cakupan persalinan oleh tenaga kesehatannnya masih rendah. Ketersediaan sarana dan tenaga kesehatan yang belum merata diseluruh daerah menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kondisi geografis berupa kepulauan merupakan salah satu hal yang spesifik di Kepulauan Riau. Tidak mudah bagi tenaga kesehatan untuk dapat menjangkau seluruh daerah, dimana dalam hal ini rasio tenaga dan penduduk tidak dapat diterapkan.

Kondisi geografis yang sulit ditempuh dan masalah transportasi menjadi salah satu penyebab terlambatnya ibu mendapat pertolongan. Di daerah dengan kondisi geografis dan transportasi sulit, meski sudah ditangani oleh bidan, namun jika dalam proses persalinan memerlukan pertolongan darurat, maka kondisi tersebut akan memperlambat ibu untuk mencapai sarana kesehatan. Point yang menentukan berhasil tidaknya uoaya penyelamatan ibu.

Tak hanya kondisi geografis, budaya yang berlaku dimasyarakat setempat cukup membuat tenaga terlatih sulit melakukan fungsinya. Alih-alih memilih bidan, ada sebagin golongan masyarakat me3milih dukun bayi sebagai penolong kelahiran. Meski ditempatkan bidan di desa, tapi masyarakatnya tidak mau meminta pertolongan.

Pemberdayaan wanita merupakan salah satu langkah yang perlu terus menerus diperkuat. Tingakat pendidikan dan perekonomian yang masi relatif rendah terutama di daerah dengan akses minim semisal pulau-pulau yang jauh, membuat wanita tidak memiliki cukup informasi mengenai kesehatan.

Dalam kondisi darurat seorang ibu hamil harus dirujuk, keputusan itu seringkali tidak berada ditangan ibu tersebut, melainkan di tangan musyawarah keluarga. Setiap detik sangat berharga sementara keluarga sibuk menunggu ayah atau juga mertua. Belum lagi jika tidak ada kepedulian dari masyarakat sekitar, mungkin tidak ada kendaraan, tidak ada donor darah dan lain sebagainya.

Tanggung-jawab Bersama

Para pemimpin sedunia telah menyepakati Millenium Development Goals dimana salah satu butir yang disepakati adalah menurunkan angka kematian ibu. Prof. Mahmoud Fathalla (1997) mengatakan :

A society that tolerates maternal death is violating a human right: women’s right to survivels maternal death society’s crime? A crime of neglect, ignorance, Indifference and inaction? Women are not dying because of diseases we cannot treat. They are dying because societies have yet to make the decision that their lives are worth saving.

mps2

Untuk itu upaya peningkatan derajat kesehatan khususnya penurunan angka Kematian Ibu dan Anak perlu didukung dan merupakan tanggung jawab bersama. Saat ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah turut mendukung upaya penurunan kematian ibu dan anak dengan melakukan revitalisasi Gerakan Sayang Ibu. Gerakan ini merupakan gerakan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan, dengan melakukan berbagai kegiatan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, melahirkan, dan nifas.

Gerakan ini menumbuhkan kesadaran bahwa kelahiran itu bisa berisiko dan bukan hanya urusan si ibu yang mau melahirkan tetapi keluarganya, suami, mertua, orang tua, tetangga yang sepuluh (dasa wisma) dan masyarakat banyak yang semuanya bersifat amal dan kepedulian. Pelaksanaan yang sudah dan terus berlangsung ini juga diback-up oleh bupati, walikota, dan camat. Kegiatan utama GSI antara lain adalah pengadaan dana bersalin, pembentukan kelompok donor darah, penyediaan ambulan desa, Pondok Sayang Ibu dan pendataan Ibu Hamil serta Kegiatan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE).

Salah satu program yang saat ini sedang digalakkan adalah Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Program ini merupakan upaya terobosan percepatan penurunan angka kematian ibu dan merupakan salah satu kegiatan dari Desa Siaga. Melalui P4K dengan stiker yang ditempel di rumah ibu hamil, maka setiap ibu hamil akan tercatat, terdata dan terpantau secara tepat. Stiker P4K berisi data tentang: nama ibu hamil, taksiran persalinan, penolong persalinan, tempat persalinan, pendamping persalinan, transport yang digunakan dan calon donor darah.

Dengan data dalam stiker, suami, keluarga, kader dukun bersama bidan di desa dapat memantau secara intensif keadaan dan perkembangan kesehatan ibu hamil, untuk mendapatkan pelayanan yang sesuai standar pada saat antenatal, persalinan dan nifas, sehingga proses persalinan sampai dengan nifas termasuk rujukannya dapat berjalan dengan aman dan selamat, tidak terjadi kesakitan dan kematian ibu serta bayi yang dilahirkan selamat dan sehat.

 
Gaya Hidup Sehat PDF Print E-mail
Friday, 22 October 2010 11:15

ghs-1Mencegah sakit adalah lebih mudah dan murah dari pada mengobati seseorang apabila jatuh sakit. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut adalah dengan bergaya hidup sehat. Gaya hidup sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Dengan semakin banyaknya penderita penyakit tidak menular (degeneratif) seperti jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stress dan penyakit tidak menular lainnya yang disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat, maka untuk menghindarinya kita perlu bergaya hidup yang sehat setiap harinya.


ghs-2Keuntungan bergaya hidup sehat :

  • Merasa tenteram, aman dan nyaman, memiliki rasa percaya diri, hidup seimbang, tidur nyenyak
  • Berpenampilan lebih sehat dan ceria, Sukses dalam pekerjaan , dan menikmati kehidupan sosial dilingkungan keluarga, handai taulan dan tetangga

Bagaimana melakukan gaya hidup sehat setiap hari agar terhindar dari bahaya penyakit tidak menular tersebut ?

 

ghs-3Ada beberapa hal yang perlu dilakukan setiap hari yaitu :

  • - Makan aneka ragam makanan
  • - Melakukan aktifitas fisik secara teratur
  • - Mengendalikan stress
  • - Hindari NAPZA (Narkotik, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya)
  • - Tidak melakukan hubungan seksual diluar nikah

Ayo… sama – sama kita bergaya hidup sehat…. Untuk hidup yang lebih sehat…..

 
Provinsi Kepulauan Riau Melaksanakan Vaksinasi Campak dan Polio PDF Print E-mail
Friday, 15 October 2010 07:00

PINCampak adalah penyakit yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak. Sebelum imunisasi campak dipergunakan secara luas di dunia hampir setiap anak dapat terinfeksi campak. Angka kesakitan penyakit campak di indonesia sekitar 1 juta pertahun dengan 30.000 kematian. Indonesia menjadi salah satu dari 47 negara prioritas yang diindentifikasi oleh WHO dan UNICEF untuk melaksanakan akselerasi dan menjaga kesinambungan dari reduksi campak. Program imunisasi campak di indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan 1 dosis pada bayi usia 9 bulan.

Adapun Dasar Hukum dari pelaksanaan kegiatan diatas adalah Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 143/MENKES/SK/VI/2009 tentang penyelenggaraan kampanye imunisasi campak dan polio tambahan secara vertahap tahun 2009 – 2011. Dimana Provinsi Kepulauan Riau melaksanakan tahap ke II dari tiga tahap yang direncanakan secara nasional. Tujuan umum dari kegiatan diatas adalah tercapainya target reduksi campak dan eradikasi polio di Provinsi Kepulauan Riau dan dengan tujuan Khusus Untuk menghilangkan kelompok rawan campak di daerah resiko tinggi, menurunkan kematian campak sebesar 90 % pada tahun 2010 dibanding tahun 2000, menjangkau anak yang belum mendapatkan imunisasi campak dan poilo pada pelayanan rutin, memastikan tingkat imunitas di populasi cukup tinggi (herd immunity) dengan cakupan > 95 %, memastikan cakupan imunisasi polio yang tinggi minimal 95 %.

Sasaran dalam pelaksana imunisasi campak adalah semua anak usia 9 bulan – 59 bulan mendapat 1 dosis imunisasi campak tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, sejumlah 161.324 anak, sedangkan untuk imunisasi polio adalah anak umur 0 – 59 bulan sejumlah 191.091 anak. Tempat pelaksanaan adalah pos imunisasi sebanyak 1.224 buah, puskesmas, puksesmas pembantu, rumah sakit, sarana pelayanan kesehatan lainnya dan pelabuhan serta sekolah tk. Tenaga pelaksana adalah tenaga kesehatan lebih kurang 3.000 orang, kader 5.384 orang. Waktu pelaksanaan direncanakan berlangsung 1 bulan ( 1 s/d 31 oktober 2010) terdiri dari minggu i dan ii pelaksanaan dan minggu iii dan iv dilakukan sweeping.

 
Ayo Ber -PHBS PDF Print E-mail
Monday, 11 October 2010 13:17

 

PHBS , kata yang sangat sederhana tapi ternyata masih banyak tenaga kesehatan yang belum tau apa arti PHBS. Kalaupun kita tau apa arti PHBS tapi masih segelintir orang yang mampu melaksanakan PHBS dalam kehidupan sehari – hari.

ARTI PHBS

PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, adalah sekumpulan perilaku yang di praktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga mampu menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Jadi PHBS merupakan wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.

PELAKSANAAN PHBS

Berdasarkan tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan nya PHBS di kelompokkan menjadi lima tatanan yaitu :

1. PHBS di Rumah Tangga

phbs-rtPHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :

 

 

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah

2. PHBS di Sekolah

phbs-skulPHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

 

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu :

1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun

2. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat

4. Olahraga yang teratur dan terukur

5. Memberantas jentik nyamuk

6. Tidak merokok di sekolah

7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan

8. Membuang sampah pada tempatnya

3. PHBS di Institusi Kesehatan

phbs-instPHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.

 

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :

1. Menggunakan air bersih

2. Menggunakan Jamban

3. Membuang sampah pada tempatnya

4. Tidak merokok di institusi kesehatan

5. Tidak meludah sembarangan

6. Memberantas jentik nyamuk

4. PHBS di Tempat Kerja

phbs-tkPHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :

1. Tidak merokok di tempat kerja
2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
3. Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan   buang air kecil
5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
6. Menggunakan air bersih
7. Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
8. Membuang sampah pada tempatnya
9. Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan

5. PHBS di Tempat – Tempat Umum

phbs-tuPHBS di Tempat - tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat - tempa t umu m agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat Umum Sehat.

Tempat - tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat - Tempat Umum yaitu :

1. Menggunakan air bersih

2. Menggunakan jamban

3. Membuang sampah pada tempatnya

4. Tidak merokok di tempat umum

5. Tidak meludah sembarangan

6. Memberantas jentik nyamuk

 
<< Start < Prev 31 32 33 34 35 36 37 Next > End >>

Page 36 of 37

Masuk



Download LKIP

 

Klik gambar untuk mengunduh

Aplikasi

(Mohon Maaf Layanan SIDK dalam
proses maintenance dan update Data)

PageRank Checking Icon

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1080
mod_vvisit_counterKemarin6240
mod_vvisit_counterMinggu Ini12958
mod_vvisit_counterMinggu Lalu18453
mod_vvisit_counterBulan Ini34454
mod_vvisit_counterBulan Lalu57018
mod_vvisit_counterSeluruhnya2690835

We have: 175 guests online
Your IP: 54.163.61.66
 , 
Today: Dec 13, 2017

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai website resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ini?
 

Link Instansi


Figur

Dr. H. Tjetjep Yudiana, M.Kes

Lihat Selengkapnya