Skip to content

Increase font size Decrease font size Default font size
:: Selamat Datang di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ::
EPIDEMIOLOGI LAPANGAN MENINGKATKAN FUNGSI SURVEILANS DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU PDF Print E-mail
Written by Retno Palupi, SKM   
Sunday, 16 June 2013 16:00

Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau dan secara Nasional  juga merupakan prioritas dalam pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Dalam daftar Standar Pelayanan Minimal (SPM) sejumlah penyakit menular dicantumkan sebagai masalah yang wajib diselenggarakan oleh daerah antara lain Imunisasi, Surveilans, Penanggulangan KLB, Polio, TB-Paru, Ispa, HIV/Aids, DBD, Diare, Malaria, Kusta, Filariasis, Pengendalian Vektor dan Hygiene Sanitasi Tempat-Tempat Umum, adalah 14 pelayanan atau program yang dimasukkan diantara 31 pelayanan/program dalam daftar SPM tersebut. Dengan demikian, kalau dikatakan bahwa SPM adalah kebijakan nasional pembangunan kesehatan, hampir 50% dari elemen SPM tersebut berkaitan dengan program PP&PL. Kecuali masalah tersebut terbukti tidak ada di daerah bersangkutan.

Selama tahun 2012 telah terjadi beberapa kali kejadian luar biasa di Provinsi Kepulauan Riau  antara lain :

  1. Suspek Dipteri        : Kota Batam & Tanjungpinang
  2. Demam berdarah    : Kab. Anambas, Bintan dan Natuna
  3. Diare                       : Kab Anambas
  4. HFMD                       : Kabupaten Bintan & Anambas

Dari gambaran tersebut bahwa kenyataan masalah penyakit menular memang masih memprihatinkan di Provinsi Kepulauan Riau, bukan berarti di Kabupaten/Kota yang tidak ada KLB berhasil dalam menggendalikan penyakit menular kemungkinan ada ditemukan kasus kerena alasan non teknis kejadian tersebut tidak dilaporkan. Beberapa jenis penyakit malah menunjukkan kecenderungan meningkat, seperti misalnya TB-Paru, Malaria, dan Demam Berdarah. Pneumonia masih menjadi penyebab utama kematian balita. Filaria berjangkit di beberapa daerah endemik. Dari segi pengobatan, tantangan baru muncul yaitu berkembangnya resistensi kuman terhadap obat. Tantangan ini terutama dihadapi pada pengobatan penyakit Malaria dan TB-Paru.

Tantangan lain adalah potensi berjangkitnya kembali penyakit-penyakit menular lama yang pada masa lalu relatif sudah dapat dikendalikan, misalnya Leptospirosis, Framboesia, Pest, Scabies, dll. Demikian juga, selama dua dekade yang lalu diamati munculnya penyakit menular baru didunia. Penyakit HIV/Aids misalnya, bisa dikatakan sebagai penyakit baru. Yang terakhir adalah berjangkitnya SARS dan Flu Burung.

Dalam rangka meningkatkan kinerja pengelola program surveilans di Kabupaten/ Kota Provinsi Kepulauan Riau Dinas Kesehatan; Pertama: meningkatkan upaya dalam program surveilans dengan  intervensi utama yang dilakukan adalah penemuan kasus dan pengobatan, intervensi terhadap faktor lingkungan dan intervensi terhadap faktor resiko perilaku; Kedua:    surveilans adalah suatu rangkaian pendekatan yang dimulai dari pengumpulan, analisa, interpretasi, dan penyebarluasan data yang dilakukan secara cermat dan terus menerus. Dalam surveilans, analisis dan penyebarluasan informasi epidemiologi perlu lebih mendapat penekanan, karena rekomendasi akan menjadi dasar penyusunan tindakan penanggulangan dan pencegahan; Ketiga   :  meningkatkan   kualitas data sehingga rekomendasi yang dihasilkan tepat sasaran hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kelengkapan data yang terkumpul. Kelengkapan data akan terdeteksi pada kegiatan analisis. Kekurangan data dapat diatasi dengan melakukan pengumpulan data tambahan, misalnya dengan survei; Keempat: meningkatkan kemampuan petugas sangat diperlukan pelatihan yang memadai bagi para petugas surveilans yang merupakan basis wilayah operasional program pemberantasan penyakit menular.
Last Updated on Monday, 24 June 2013 11:20
 

Site Map