Skip to content

Increase font size Decrease font size Default font size
:: Selamat Datang di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ::
Respon Penyelidikan Epidemiologi Malaria di Kabupaten Bintan PDF Print E-mail
Written by P2p.P2m   
Wednesday, 01 February 2017 12:44

Sebagai upaya mencegah dan mengendalikan penyakit Malaria maka Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau melakukan penyelidikan epidemiologi malaria di Kabupaten Bintan pada tanggal 18 dan 25 Januari 2017. Penyelidikan epideiologi malaria ini dilaksanakan dalam bentuk survey parasit (plasmodium) melalui MFS dan survey larva Anopheles pada Breeding Places.


Survey parasite dilaksanakan di pulau Selat Limau (25 diperiksa, hasil negatif); pulau Sirai (50 diperiksa, hasil negatif) dan pulau Telang (60 diperiksa,hasil negatif)

Survey larva anopheles pada breeding places di pulau Selat limau tidak potensial, pulau Sirai terdapat breeding places potensial dengan ditemukan larva anopheles 2/10 ciduk, juga ditemukan catel barrier hewan ternak lembu. Di pulau Mantang Besar tidak ditemukan larva anopheles. Hal tersebut karena Puskesmas Mantang  melakukan intervensi larvasida berkala. Di Pulau Mantang besar juga melakukan intervensi berupa penanaman pohon bakau agar tidak menjadi breeding places potensial anopheles.

Survey selanjutnya yang dilaksanakan di Desa Mapur, kecamatan Bintan Pesisir. Survey parasite dilaksanakan di pulau Mapur (75 diperiksa, hasil negatif); survey larva Anopheles di temukan larva, Lokasi breeding places potensial Anopheles Sundaicus.

Untuk mencegah terjadinya kasus maka dalam kegiatan tersebut juga dibagikan 40 buah kelambu di Pulau Sirai dan 30 buah di Pulau Mapur. Tatang Hidayat, SKM., DAP&E selaku kepala seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular yang memimpin langsung pelaksanaan survey mengatakan bahwa pencegahan dan pengendalian malaria di Kepulauan Riau masih menghadapi masalah antara lain masih adanya kasus indigenous, prilaku pemakaian kelambu yang tidak tepat, kebiasaan masyarakat begadang diluar rumah dan rumah tidak bebas nyamuk. Wilayah Kepulauan Riau dominan Malaria jenis Plasmodium Palciparum.

Lanjut kata beliau bahwa Pemerintah telah melakukan upaya pencegahan dan pengendalian dalam bentuk penemuan penderita malaria melalui MFS, survey larva dan pemetaan breeding places, larvasidasi pada breeding places potensial dan Pembagian kelambu berinsektisida.

Sebagai daerah pesisir dengan rerata ketinggian kurang dari 1.000 meter dpl maka hamper seluruh wilayah Kepulauan Riau berpotensi kasus Malaria. Vektor Malaria yang pernah ditemukan di Provinsi kepulauan Riau berdasarkan data Puslitbang Kemenkes RI dan Loka Litbang P2B2 Baturaja antara lain  An. Sundaicus, An. Maculatus, An. Subpictus,  An. Letifer, An. Vagus, An. Barbirostris dan  An. Hyrcanus group.

Anopheles sundaicus berkembangbiak di air payau (yaitu : campuran air tawar dan air asin) dengan kadar garam optimum antara 12‰-18‰, bila kadar garam mencapai 40‰ jentik nyamuk Anopheles sundaicus sulit untuk berkembangbiak dan mampu terbang sejauh 3 km. Aktif menggigit sepanjang malam, tetapi paling banyak ditangkap pada jam 22.00-01.00, Breeding places Anopheles sundaicus, yaitu : tambak udang yang terbengkelai, muara sungai yang tertutup pasir, galian-galian sepanjang pantai yang terisi air payau, serta genangan air payau lainnya.

Anopheles maculatus berkembangbiak di air jernih pada daerah pegunungan, Aktifitas menggigit pada malam hari agak terlambat, yaitu : sepanjang malam, jam 21.00-03.00 dan sifatnya antropophilic, Breeding places Anopheles maculatus, yaitu : sungai kecil dengan air jernih, mata air yang mendapat sinar matahari langsung, dan lebih baik apabila ada tanaman air (misalnya : salada air). Densitas Anopheles maculatus tinggi pada musim kemarau, sedangkan pada musim penghujan densitasnya rendah, karena breeding places_nya larut/hanyut karena banjir.

Anopheles subpictus berkembangbiak di air payau, sering diketemukan berdampingan dg  Anopheles sundaicus, kelebihannya nyamuk tsb lebih toleran terhadap kadar garam, bisa juga ditemukan pada air dengan kadar garam rendah atau pun kadar garam tinggi. Aktif menggigit sepanjang malam, meskipun paling banyak ditangkap pada jam 22.00-23.00. Anopheles subpictus betina senang menghisap darah ternak daripada darah manusia (zoofilik) . Berdasarkan hasil uji presipitin yang dilaksanakan di sulawesi selatan menunjukan, bahwa : indeks darah manusia lebih kecil daripada darah hewan (sapi), yaitu : 94%-100% specimen yg diuji adalah darah ternak (bovid).

Last Updated on Friday, 21 April 2017 21:34
 

Site Map