Skip to content

Increase font size Decrease font size Default font size
:: Selamat Datang di Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ::
Petugas Puskesmas Garis Depan Promkes PDF Print E-mail
Monday, 02 September 2013 16:00
Sebanyak 26 orang peserta dari Kabupaten/Kota mengikuti Pelatihan Metode & Teknik (Metnik) Promosi Kesehatan (Promkes) Bagi Petugas Kesehatan Dalam Meningkatkan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) tingkat Provinsi Kepulauan Riau tahun 2013 di Pelangi Hotel Tanjungpinang, Rabu (28/8) – Jum’at (30/8).

 Pelatihan ini merupakan program Seksi Promkes Dinkes Kepri yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan petugas Promkes dalam upaya meningkatkan Kinerja Promkes di Provinsi Kepulauan Riau. Sasaran pelatihan adalah Pengelola Program Promkes di Puskesmas, Dinkes Kabupaten/Kota dan Provinsi dan Kepala Seksi Promkes Kabupaten/Kota.

 Khususnya pelatihan ini bertujuan agar peserta memahami konsep perilaku kesehatan, memahami dan mampu mengaplikasikan Advokasi dalam kesehatan, memahami dan mampu melaksanakan metode & teknik media promosi kesehatan, memahami dan terampil dalam komunikasi kesehatan, memahami dan terampil melakukan kemitraan dalam Promkes, serta memahami dan terampil melakukan pemberdayaan Masyarakat dalam Promkes.

 “Metode & Teknik Promkes merupakan suatu cara dan alat penyampai pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok/golongan dan individu, agar promosi kesehatan berhasil menjangkau sasaran secara efektif dan efesien dengan harapan berpengaruh terhadap perilaku hidup bersih sehat (PHBS) masyarakat”, kata Arsenila Dewi Pramanti,S.Farm,Apt Kepala Seksi Promkes Dinkes Kepri.

 Pengelola Program Promkes disemua tingkatan (Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Puskesmas) berperan penting memberikan informasi kesehatan dan pelajaran keterampilan berPerilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) pada masyarakat sebagai sasaran program. Diketahui bahwa kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan, namun perilaku kesehatan masyarakat masih rendah dan perubahan perilaku hidup sehat masyarakat masih rendah. Untuk itu dibutuhkan pemahaman petugas dalam metode dan teknik promosi kesehatan.

 Promosi Kesehatan merupakan pilar utama kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dipahami karena semua bidang atau program kesehatan mempunyai aspek perilaku. Penyakit menular maupun tidak menular terjadi bukan hanya karena agen atau penyebab penyakit saja, melainkan juga karena faktor perilaku manusia. Misalnya Penyakit HIV/AIDS atau penyakit menular seksual lainnya, virus tidak akan masuk ke tubuh manusia tanpa perilaku manusia, baik melalui hubungan seks maupun jarum suntik. Demikian pula penyakit tidak menular, dimana banyak penyebab yang merupakan faktor risiko berbagai penyakit misalnya jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan sebagainya, adalah akibat dari perilaku manusia (makan tidak terkontrol, dan tidak melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara tidak teratur.

 Demikian juga masalah kesehatan yang lain seperti kesehatan lingkungan, kesehatan reproduksi, gizi, imunisasi, kecelakaan, dan sebagainya, selalu melibatkan perilaku. Untuk intervensi terhadap faktor risiko perilaku terhadap penyakit atau masalah kesehatan tersebut, tidak lain adalah promosi kesehatan. Disamping promosi kesehatan diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko masalah kesehatan atau penyakit tersebut.

 ”Promosi Kesehatan juga diperlukan semua program kesehatan mulai tingkat preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif”, jelas Arsenila dalam sambutannya.

 Mengingat itu semua adalah tanggung jawab kita bersama, maka semua petugas kesehatan, utamanya yang berada di garis depan (front line) pelayanan kesehatan pada dasarnya adalah sebagai pelaksana promosi kesehatan petugas kesehatan baik sebagai pegawai negeri, pegawai pemerintah daerah, pegawai BUMN/Swasta yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, poliklinik maupun praktek swasta adalah sekaligus merupakan petugas promosi kesehatan atau promotor/pendidik kesehatan. Dokter, dokter gigi, perawat, bidan, petugas di apotek, dan sebagainya dalam tugasnya melayani pasien sehari-hari berkewajiban untuk menyampaikan informasi-informasi kepada pasien atau yang dilayani terkait penyakit atau masalah kesehatan yang dialaminya.

 Disamping itu semua petugas kesehatan dimanapun berada dalam masyarakat, termasuk yang tidak bertugas di garis depan pelayanan sebenarnya juga berfungsi sebagai promotor kesehatan. Perilaku petugas kesehatan di lingkungan tempat tinggal ataupun di masyarakat secara umum, sesuai dengan nilai-nilai kesehatan (rapi, bersih, tidak merokok, membuang sampah di tempat yang benar, tidak meminum minuman keras, tidak menggunakan narkoba dan sebagainya) adalah bentuk promosi kesehatan bagi masyarakat lingkungan.

 Dengan adanya Promosi Kesehatan tersebut diharapkan membawa akibat terhadap perubahan perilaku kesehatan dari sasaran. Faktor yang mempengaruhi proses Promkes salah satunya adalah metode dan teknik yang digunakan untuk menjangkau sasaran tersebut. Penggunaan metode dan teknik dalam pelaksanaan promosi kesehatan yang tergantung pada besar kecilnya kelompok sasaran.

 Dengan metode yang benar dan penggunaan alat peraga yang tepat sasaran, maka materi atau bahan isi yang perlu dikomunikasikan dalam Promkes akan mudah diterima, dicerna dan diserap oleh sasaran, sehingga kesadaran masyarakat akan PHBS lebih mudah terbina dengan baik dan benar. Pelatihan ini menghadirkan narasumber 2 orang dari Pusat Promkes Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kepala Seksi Promkes Dinkes Kepri. ***

 

 

 

Site Map